Sumber : KPAII
Direktorat
Akses Sumber Daya Industri dan Promosi Internasional bersama Korea-Indonesia
Industry and Technology Cooperation Center (KITC) menyelenggarakan FGD
Penjajakan Kerja Sama Sumber Daya Industri (SDI) Pengembangan Logam Tanah
Jarang: Khususnya Nikel dan Silikon di Hotel Padma Bandung pada tanggal 10-11
Maret 2022. Acara dibuka oleh Direktur ASDIPI, Ibu Iken Retnowulan, dan dihadiri
oleh berbagai stakeholder industry terkait pengembangan logam
tanah jarang, pengolahan silicon dan pengolahan nikel.
Direktur
ASDIPI menyampaikan pada pelaksanaan FGD tersebut, Kemenperin dan KITC berupaya
menghimpun informasi serta masukan dari para pemangku kepentingan terkait dalam
rangka membahas rencana Kementerian Perdagangan, Industri dan Energi (MOTIE)
Korea dengan lembaga afiliasinya Korea Evaluation Institute of
Industrial Technology (KEIT) untuk melakukan “Preliminary
Feasibility†terhadap pengembangan pengolahan mineral Silikon dan Nikel
untuk pemanfaatan industri dan global value chain antara kedua
negara.
Pada
kegiatan ini, stakeholder yang turut menyampaikan paparan
terdiri dari:
Peluang
kerja sama pada pemanfaatan logam tanah jarang, nikel dan silika hingga saat
ini masih terbuka lebar baik itu melalui kerja sama pengembangan bersama maupun
kerja sama lainnya. Melalui FGD ini diharapkan terjadi sharing
knowledge dan tukar pikiran antara para stakeholder industri
maupun peneliti di antara kedua negara dalam bidang teknologi terbaru dalam pengolahan
LTJ, nikel dan silika serta peningkatan kemampuan sumber daya industri agar
terwujudnya efektivitas dan efisiensi dalam peningkatan daya saing industri
nasional. Selain itu, diharapkan juga para stakeholder industri
terkait dapat memanfaatkan kesempatan ini untuk dapat menjalin networking dengan
rekan-rekan dari Korea Selatan.
Sebagai
tindak lanjut, setelah pelaksanaan FGD ini pihak Korea Selatan akan mendalami
lagi potensi kerja sama feasibility study dengan stakeholder terkait
mengenai pengembangan teknologi pengolahan pengolahan LTJ, nikel maupun silikon
dalam pemanfaatannya pada pengembangan baterai listrik dan electric
vehicle.
Sumber : Investor.id
JAKARTA - Kementerian Perindustrian RI, Federasi Teknologi Informatika Indonesia (FTII), Indonesia Internet Governance Forum (IGF) dan Nagayana Indonesia Gelar Soft Launching Indonesia 4.0 Conference & Expo 2022
Kolaborasi dan sinergi antar seluruh pihak merupakan kunci dalam implementasi industri 4.0. Transformasi industri 4.0 akan menjawab permasalahan yang dihadapi pelaku industri dan mempercepat pemulihan industri nasional saat ini.
Kementerian Perindustrian melalui Badan Standardisasi dan Kebijakan Jasa Industri (BSKJI) bekerjasama dengan Federasi Teknologi Informatika Indonesia (FTII), Indonesia Internet Governance Forum (IGF) dan Naganaya Indonesia sebagai Event Organizer telah menyelenggarakan kegiatan Soft Launching Indonesia 4.0 Conference & Expo 2022 dengan tema “Accelerate the Implementation of Industry 4.0 to Support Inclusive and Sustainable Industries for National Recoveryâ€.
Dalam sambutannya, Kepala Badan Standardisasi dan Kebijakan Jasa Industri, Doddy Rahadi menyampaikan, perlunya wadah berkumpul stakeholder terkait dalam pelaksanaan implementrasi Industri 4.0 di Indonesia.
Terutama untuk membangun sinergi dan kolaborasi antar pihak meliputi: pemerintah, pelaku industri/asosiasi, akademisi dan lembaga R&D, technology provider, konsultan, dan pelaku keuangan guna mempercepat proses transformasi Industri 4.0 serta membangun jejaring dan kolaborasi. Acara yang berlangsung di Hotel JS luwansa Jakarta, 8 Maret 2022 ini juga dihadiri oleh kurang lebih 50 peserta secara offline dan hampir 300 peserta secara online.
Melalui acara Soft Launching Indonesia 4.0 Conference & Expo 2022, Kementerian Perindustrian dan seluruh stakeholder terkait berupaya untuk meningkatkan sinergi antara pemerintah, pelaku industri/asosiasi, akademisi, lembaga R & D, technology provider, konsultan, dan pelaku keuangan untuk dapat mendukung transformasi teknologi sesuai dengan apa yang telah di rencanakan dalam program nasional Making Indonesia 4.0.
“Langkah – langkah yang dilakukan Kementerian Perindustrian dalam pelaksaaan Making Indonesia 4.0 antara lain asesmen INDI 4.0, pemberian INDI award, pendampingan Industri 4.0, penunjukkan lighthouse industry 4.0, pengembangan SDM Industri 4.0, pendirian PIDI 4.0 dan capability center, serta pelatihan e-commerce kepada IKM,†tambah Heru Kustanto, Kepala Pusat Optimalisasi Pemanfaatan Teknologi Industri dan Kebijakan Jasa Industri.
Dalam rangka mengumpulkan seluruh pemangku kepentingan pada akselerasi industri 4.0 dan membahas mengenai perkembangan industri 4.0 di Kementerian/Lembaga/BUMN, industri/asosiasi, technology provider, Lembaga R&D, konsultan dan akademisi, Kementerian Perindustrian melalui Badan Standardisasi dan Kebijakan Jasa Industri (BSKJI) berkolaborasi dengan Naganaya Indonesia akan menyelenggarakan kegiatan event Indonesia 4.0 Conference & Expo 2022 di Jakarta pada tanggal 24 – 25 Agustus 2022.
“Kegiatan Indonesia 4.0 Conference and Expo 2022 akan menjadi sebuah lapangan untuk seluruh pemain industri 4.0 baik itu Pemerintah, Pelaku Industri, Asosiasi/Komunitas, Akademisi dan pihak lainnya untuk berdiskusi dan mengetahui teknologi terkini industri 4.0â€, Aditya Adiguna, Direktur Utama, PT. Naganaya Indonesia Internasional.
Kegiatan Indonesia 4.0 Conference & Expo tidak hanya akan mengundang pembicara nasional saja, tetapi juga turut menghadirkan pembicara global yang akan memberikan informasi, ilmu, maupun pandangan terkait isu terkini industri 4.0. Disamping itu, kegiatan ini juga mentargetkan kurang lebih 100 peserta pameran dari perusahaan teknologi nasional maupun global, BUMN, startup, kampus, asosiasi dan lembaga pemerintah yang akan memamerkan teknologi terkini dan informasi terkait industri 4.0.
Adapun rangkaian acara pendukung lainnya yaitu : Smart Factory Forum yang merupakan event road show sebelum event utama yang diadakan di 2 tempat yaitu Batam dan Karawang untuk mengundang para pemangku kepentingan industri yang terdapat pada di sekitar kota tersebut dalam hal teknologi industri 4.0. Podcast 4.0 yang berkonsep pembicaraan ringan mengenai teknologi 4.0 dan yang terakhir Indonesia Internet Governance Forum yang bersamaan diadakan dalam event utama dengan konsep Focus Group Discussion dari FTII dan ID-IGF.
Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus memacu pengembangan industri keramik nasional agar bisa lebih berdaya saing global.
Salah satu langkah strategis yang telah dilakukan adalah dengan membangun Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) bidang keramik yang siap meningkatkan kompetensi sumber daya manusia (SDM) industri keramik yang didirikan di Balai Besar Keramik Bandung.
"Saat ini, industri keramik Indonesia tercatat menduduki peringkat ke-8 dunia, dengan kapasitas produksi terpasang sebesar 538 juta m2 per tahun, serta mampu menyerap tenaga kerja lebih dari 200 ribu orang," kata Kepala Badan Standardisasi dan Kebijakan Jasa Industri (BSKJI) Kemenperin, Doddy Rahadi di Jakarta, Senin (7/2).
Selaras dengan program pemerintah dalam meningkatkan kompetensi SDM industri, Balai Besar Keramik (BBK) selaku salah satu unit kerja di bawah binaan BSKJI, telah membangun LSP untuk memberikan layanan jasa sertifikasi kompetensi kepada SDM industri keramik nasional.
"LSP keramik memiliki tujuan untuk memberikan jaminan bahwa SDM yang disertifikasi memenuhi persyaratan skema sertifikasi sesuai bidangnya, yang dibuktikan dengan sertifikat kompetensi kerja berdasarkan Standard Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) dalam bidang keramik," papar Doddy.
SKKNI terkait industri keramik tertuang dalam Keputusan Menteri Ketenagakerjaan Nomor 190 Tahun 2016 tentang Penerapan SKKNI Kategori Industri Pengolahan Golongan Pokok Industri Bahan Galian Non Logam Bidang Industri Keramik Tableware dan Saniter.
"SKKNI tersebut perlu dimanfaatkan secara maksimal seiring dengan tersedianya LSP bidang keramik," tegas Doddy.
Menurutnya, kualitas SDM dengan kompetensi kerja yang terstandar, akan mendorong peningkatan daya saing industri keramik nasional.
"Dengan saya saing yang tinggi, sektor industri keramik akan dapat berkontribusi besar dalam peningkatan kualitas produk keramik nasional sehingga turut berperan dalam mendongkrak pertumbuhan ekonomi nasional," imbuhnya.
Ke depan, dengan dukungan asesor kompetensi, skema sertifikasi dan tempat uji kompetensi yang memadai, LSP keramik BBK akan memberikan layanan jasa sertifikasi profesi bidang keramik dengan unit kompetensi pengujian mutu produk keramik tableware dan sainter.
"Skema kompetensi akan terus dikembangkan sejalan dengan perkembangan SKKNI," ujar Kepala BSKJI.
Lebih lanjut, pendirian LSP di BBK merupakan salah satu pengembangan peran, selain memberikan layanan sertifikasi produk, sistem manajemen mutu, serta industri hijau dan halal.
“Melalui layanan sertifikasi profesi tersebut, BBK ikut berperan aktif dalam mencetak SDM industri keramik Indonesia yang kompeten, berdaya saing dan siap mengadapi persaingan bebas terhadap pasar tenaga kerja," pungkasnya.
Sumber : Industry
Jakarta - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus memacu
pengembangan industri keramik nasional agar bisa lebih berdaya saing
global.Â
Salah satu langkah strategis yang telah dilakukan adalah dengan
membangun Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) bidang keramik yang siap
meningkatkan kompetensi sumber daya manusia (SDM) industri keramik.
"Saat ini, industri keramik Indonesia tercatat menduduki
peringkat ke-8 dunia, dengan kapasitas produksi terpasang sebesar 538 juta m2
per tahun, serta mampu menyerap tenaga kerja lebih dari 200 ribu orang,"
kata Kepala Badan Standardisasi dan Kebijakan Jasa Industri (BSKJI) Kemenperin,
Doddy Rahadi di Jakarta, Senin (7/2).
Selaras dengan program pemerintah dalam meningkatkan kompetensi
SDM industri, Balai Besar Keramik (BBK) selaku salah satu unit kerja di bawah
binaan BSKJI, telah membangun LSP untuk memberikan layanan jasa sertifikasi
kompetensi kepada SDM industri keramik nasional.Â
"LSP keramik memiliki tujuan untuk memberikan jaminan bahwa
SDM yang disertifikasi memenuhi persyaratan skema sertifikasi sesuai bidangnya,
yang dibuktikan dengan sertifikat kompetensi kerja berdasarkan Standard
Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) dalam bidang keramik," papar
Doddy.
SKKNI terkait industri keramik tertuang dalam Keputusan Menteri
Ketenagakerjaan Nomor 190 Tahun 2016 tentang Penerapan SKKNI Kategori Industri
Pengolahan Golongan Pokok Industri Bahan Galian Non Logam Bidang Industri
Keramik Tableware dan Saniter.Â
"SKKNI tersebut perlu dimanfaatkan secara maksimal seiring dengan
tersedianya LSP bidang keramik," tegas Doddy.
Menurutnya, kualitas SDM dengan kompetensi kerja yang terstandar,
akan mendorong peningkatan daya saing industri keramik nasional.Â
"Dengan saya saing yang tinggi, sektor industri keramik akan
dapat berkontribusi besar dalam peningkatan kualitas produk keramik nasional
sehingga turut berperan dalam mendongkrak pertumbuhan ekonomi nasional,"
imbuhnya.
Â
Ke depan, dengan dukungan asesor kompetensi, skema sertifikasi dan tempat uji
kompetensi yang memadai, LSP keramik BBK akan memberikan layanan jasa
sertifikasi profesi bidang keramik dengan unit kompetensi pengujian mutu produk
keramik tableware dan sainter.Â
"Skema kompetensi akan terus dikembangkan sejalan dengan
perkembangan SKKNI," ujar Kepala BSKJI.
Lebih lanjut, pendirian LSP di BBK merupakan salah satu
pengembangan peran, selain memberikan layanan sertifikasi produk, sistem
manajemen mutu, serta industri hijau dan halal.Â
“Melalui layanan sertifikasi profesi tersebut, BBK ikut berperan
aktif dalam mencetak SDM industri keramik Indonesia yang kompeten, berdaya
saing dan siap mengadapi persaingan bebas terhadap pasar tenaga kerja,"
pungkasnya.
Â
Â
Senin, 9 Maret 2020
Sumber: Tempo.co
(28/02/2020)
Editor: Rr. Ariyani Yakti
Widyastuti
TEMPO.CO, Jakarta - Kalangan pengusaha keramik yakin penurunan
harga gas berpotensi menggenjot utilitas pabrikan ke level 90-95 persen.
Asosiasi Aneka Keramik atau Asaki bahkan meramalkan sebagian pabrikan yang kini
sudah menghentikan proses produksi akan kembali berfungsi.
Ketua Umum Asaki Edy Suyanto mengatakan saat ini telah ada sembilan pabrikan
atau industri keramik yang menghentikan proses produksi. Sebagian pabrik ini
telah menjual peralatan produksi, tetapi masih mempertahankan bangunan pabrik.
"(Sementara itu) sebagian bisa berproduksi kembali karena mesin produksi
dan sarana produksi lain masih terpasang," ujar Edy, Jumat, 28 Februari
2020. "(Sembilan pabrikan tersebut) sangat mungkin beroperasi kembali,
tapi membutuhkan waktu lebih lama untuk recovery."
Edy menjelaskan, berhentinya produksi sembilan pabrikan tersebut membuat
kapasitas terpasang pabrikan keramik nasional turun sekitar 6,89-8,62 persen.
Dengan turunnya harga gas, Edy menghitung volume produksi tetap akan naik ke
level 80-82 persen atau memproduksi sekitar 400 juta-410 juta meter persegi
(sqm).
Angka tersebut melonjak dari proyeksi sebelumnya yakni sebanyak 375 juta sqm
dengan utilitas dilevel 70 persen. Adapun, Edy mencatat volume produksi seluruh
pabrikan tahun lalu hanya mencapai sekitar 350 juta sqm.
Tak hanya itu, Edy menyebutkan penurunan harga gas pada akhir kuartal I tahun
2020 dapat membuat perfoma produksi industri keramik sama seperti pada
2012-2013 dengan utilitas pabrikan di level 90-95 persen. Pemerintah diyakini
akan menepati janjinya dengan menurunkan harga gas ke level US$ 6 per MMBtu.
Selama ini penurunan harga gas memiliki urgensi tinggi lantaran pasar domestik
saat ini dibanjiri keramik impor. Penurunan harga gas juga dapat mendongkrak
daya saing keramik lokal di pasar nasional dan meredam dampak banjir keramik
impor.
Di tahun pertama pengenaan tambahan bea masuk, kata Edy, hanya mampu menekan
volume impor keramik sebesar 9 persen secara tahunan. Ia khawatir dengan angka
tersebut lantaran tambahan bea masuk akan turun ke level 19 persen pada awal
kuartal IV Tahun 2020.
Selain besaran bea tambahan yang rendah, Edy menyatakan produsen keramik dari
lainnya mengisi kekosongan pangsa keramik Cina di dalam negeri. Volume keramik
dari India naik lebih dari 12 kali lipat menjadi 16 juta meter persegi (sqm).
Selain itu, keramik dari Vietnam di dalam negeri naik 25 persen. Walhasil,
neraca perdagangan keramik jauh berada di zona merah. Nilai impor keramik pada
tahun lalu mencapai US$ 272 juta, sedangkan performa ekspor keramik hanya US$
52 juta.
Balai Besar Keramik mendapatkan penghargaan sebagai Best Halal
Innovation dari kategori Government Innovation pada acara Indonesia Halal
Industry Award 2021 yang diselenggarakan oleh Kementerian Perindustrian
Republik Indonesia pada tanggal 17 Desember 2021.
Indonesia Halal Industry Award, merupakan program pengembangan ekonomi
dan keuangan syariah sebagai bagian dari peran Kementerian Perindustrian dalam
mewujudkan Indonesia menjadi kiblat perekonomian syariah di dunia.
Bapak Wakil Presiden KH Ma’ruf Amin hadir dan memberikan 14 penghargaan
dari tujuh kategori yang dinilai dalam ajang IHYA 2021 serta satu penghargaan
Best of the Best. Ketujuh kategori tersebut adalah:
1.  Best Halal Innovation yang diberikan kepada berbagai
pihak yang melakukan inovasi di bidang halal, baik secara individu, kelompok,
lembaga, maupun perusahaan industri.
2.  Best Social Impact Initiative, diberikan kepada kelompok
dan perusahaan yang berperan besar dalam pengembangan Industri Halal, baik pada
zona lokal, daerah, maupun nasional dengan mengalokasikan secara khusus
penggunaan dana Corporate Social Responsibility (CSR) atau sumber pendanaan
lainnya.
3.  Best Halal Supply Chain, diberikan kepada perusahaan
industri yang secara konsisten mampu memastikan bahan baku dan bahan penolong
yang digunakan berasal dari sumber-sumber yang halal, thoyyib, dan mampu
tertelusur.
4.  Best Small and Medium Enterprise, diberikan kepada
perusahaan industri kategori kecil dan menengah yang secara konsisten
menjalankan prinsip-prinsip Halal dalam menjalankan produksinya.
5.  Best Halal Industrial Estate, diberikan kepada perusahaan
Kawasan Industri yang menunjukkan komitmennya dalam mengembangkan Kawasan
Industri Halal.
6.  Best Export Expansion, diberikan kepada perusahaan
industri yang menunjukkan kinerja ekspor produk halal yang luar biasa.
7.  Best Halal
Program Support yang diberikan kepada institusi yang memberikan dukungan
terhadap tumbuhnya industri halal nasional.
Dari 145 peserta yang ikut serta dalam acara ini, Balai Besar Keramik
terpilih melalui inovasi dalam menemukan composit bone ash berbasis bahan baku
kapur alam untuk aplikasi pada industri keramik dan industri medis (implant
tulang dan gigi), yang berpotensi menggantikan bone ash dari babi yang sekarang
banyak digunakan.
Dengan dipilihnya Balai Besar Keramik untuk menerima penghargaan Best
Halal Innovation kategori Government Innovation, Balai Besar Keramik akan terus
melakukan inovasi dan berusaha menjadi contoh dan inspirasi bagi para pelaku
industri dalam pengembangan produk halal agar dapat turut serta mendorong
Indonesia menjadi pemain halal tingkat global.
Temu Usaha Industri telah dilaksanakan pada hari Kamis tanggal
14 Oktober 2021 di Hotel Pullman Bandung Grand Central dengan konsep acara
hybrid Zoom Meeting dan hadir onsite dengan tema “Perkuat Tingkat Komponen
Dalam Negeri (TKDN) dan Standar Nasional Indonesia (SNI) Mewujudkan Daya Saing
Industri untuk Indonesia Tangguh dan Tumbuhâ€. Peserta kegiatan ini sebanyak 130
orang yang berasal dari industri dalam negeri terutama pelanggan layanan Balai
Besar Keramik, peneliti dan pegawai dari satuan kerja di lingkungan Kementerian
Perindustrian, mahasiswa dan masyarakat umum.
Acara Temu Usaha Industri diawali oleh laporan kegiatan dari
Kepala Balai Besar Keramik, Azhar Fitri dan dilanjutkan dengan pidato pembukaan
(opening speech) oleh Bapak M. Arifin selaku Sekretaris Badan Standardisasi dan
Kebijakan Jasa Industri, Kementerian Perindustrian. Pelaksanaan acara dibagi
menjadi tiga sesi acara yang terdiri dari keynote speech, dan dua sesi
pemaparan dari beberapa narasumber.
Sesi pertama atau keynote speech mengangkat topik mengenai
Penguatan dan Optimalisasi IKM nasional dengan narasumber Ibu Dini Hanggandari
selaku Direktur Industri Kecil dan Menengah Logam, Mesin, Elektronika, dan Alat
Angkut pada Direktorat Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka. Masih pada
sesi keynote speech selanjutnya adalah Edy Suyanto, Ketua Umum ASAKI,
yang memaparkan “Peluang dan Tantangan Produsen Keramik Dalam Negeri di Masa
Pandemi dan Substitusi Imporâ€.
Materi diskusi disampaikan secara panel dengan 2 sesi dan 7
narasumber dan topik sesuai tema kegiatan yang dimoderatori oleh Ibu Tri
Yusmani dari Balai Besar Keramik pada sesi pertama. Materi pertama pada sesi
pertama adalah “Informasi Layanan Jasa Industri Balai Besar Keramik†yang
dibawakan oleh Ibu Cucu Setyawati, Plt. Kepala Bidang PKAT, Balai Besar
Keramik. Paparan selanjutnya dibawakan oleh Bapak Arnes Lukman, Plt. Kepala
Bidang Tata Kelola dan Sertifikasi di P3DN dengan topik “Sertifikasi Tingkat
Komponen Dalam Negeriâ€. Topik ke-3 adalah “Pengawasan Barang Beredar di Pasar†dengan
narasumber Bapak Ivan Fithriyanto, Direktorat Jenderal Perlindungan Konsumen
dan Tertib Niaga, Kementerian Perdagangan.
Pada sesi kedua ini acara dipandu oleh Ibu Sinta Rismayani dari
Balai Besar Keramik. Pemaparan pada topik pertama pada sesi kedua dibawakan
oleh Bapak Rotua, Manajer QA/QC di PT. Narumi Indonesia, dengan judul topik
“Investasi di Indonesia dan Peluang Ekspor Produk Tablewareâ€. Paparan
selanjutnya dibawakan oleh Bapak Darma Putra Nurjadin dari PT. Sinar Rasa
Kencana dengan topik “'Kemampuan Bersaing Industri Kaca Nasionalâ€. Topik
berikutnya adalah “Pengawasan Barang Beredar di Pasar†dengan narasumber Bapak
Sutarto, Pusat Pengawasan Standardisasi Industri, Kementerian Perindustrian.
Topik terakhir kegiatan ini adalah “Peran Kepolisian pada Pengawasan Barang
Beredar di Pasar†dengan pembicara Novi Edyanto dari Kepolisian Daerah Jawa
Barat.
Acara temu usaha industri merupakan program rutin Balai Besar
Keramik setiap tahun, yang diadakan di beberapa tempat berbeda dengan tujuan
untuk mendengar secara langsung keluhan dan masukan dari pelanggan yang
tentunya sebagai bahan evaluasi perbaikan kedepannya. Acara temu pelanggan ini
juga merupakan momen silaturahmi dalam rangka menjalin hubungan yang baik
antara kedua belah pihak.
Balai Besar Keramik Bandung kembali menyelenggarakan
kegiatan tahunan Seminar Nasional Keramik XX, Rabu 13 Oktober 2021 di Hotel
Pullman Bandung Grand Central. Seminar ini terselenggara dengan sukses atas
dukungan Kementerian Perindustrian Republik Indonesia dan Badan Standardisasi
dan Kebijakan Jasa Industri
Seminar
dibuka oleh Kepala Pusat Optimalisasi Pemanfaatan Teknologi Industri dan
Kebijakan Jasa Industri, DR.Ir. Heru Kustanto, M.Si. Dalam sambutannya, beliau
menyatakan bahwa ketersediaan pasokan bahan baku yang berkesinambungan menjadi
faktor yang tidak kalah penting dalam pengembangan industri keramik Nasional.
Kepala
Balai Besar Keramik Ir. Azhar Fitri, M.Si mengatakan acara yang dihelat sebagai
media desiminasi hasil penelitian dan perkembangan terkini bidang keramik ini
mengambil tema “Hilirisasi Bahan Galian non Logam Indonesia dan Ekonomi
Sirkular dalam mendukung Penerapan Industri Hijauâ€.
Seminar
diawali dengan pemaparan lima narasumber yang mewakili pemerintah, praktisi,
akademisi, dan industri yaitu Agust Juvenly Purba, ST, MBA (Pejabat Fungsional
Pembina Industri pada Direktorat Industri Semen, Keramik, dan Pengolahan Bahan
Galian Non Logam, Kementrian Perindustrian RI) Â dan Prof.Dr.rer.nat Marta
Fani Cahyandito, SE., M.Sc (Guru Besar Ilmu Manajemen Strategis FakultasEkonomi
dan Bisnis Universitas Padjajaran , Rr. Sri Gadis Pari Bekti, S.Si, M.Si.
(Pejabat Fungsional Analis Kebijakan pada Pusat Industri Hijau Badan
Standardisasi dan Kebijakan Jasa Industri),Dra. Sinta Rismayani, MT (Pejabat
Fungsional Asesor Manajemen Mutu Industri pada Balai Besar Keramik Badan
Standardisasi dan Kebijakan Jasa Industri), Dadang Makmun (PT. Energi Prima
Nusantara), dan Djoko Soeprijanto (PLTU Jateng II Adipala Cilacap) yang
mendiskusikan isu-isu terkini tentang sirkular ekonomi dalam mendukung
pengembangan industri hijau di Indonesia.
Di
samping seminar, pada acara ini dilakukan juga penandatanganan Nota
kesepahaman antara Balai Besar Keramik dengan PT.Energi Prima Nusantara terkait
pelatihan, konsultansi dan optimalisasi pemanfaatan teknologi FABA sebagai produk
fungsional, dan dengan Fakultas kedokteran Gigi, Universitas Airlangga
terkait dengan Optimalisasi pemanfaatan Teknologi Material Hidroksiapatit (HA)
dan aplikasinya di bidang medik.
Tanggal
2 sept 2021 BBK menerima kunjungan Sekjen, Inspektur, dan Ka. BSKJI di lahan
BBK yang belokasi di Desa Payonanan dan Desa Batutumpang, Plered Purwakarta.
Kunjungan ini bermaksud untuk meninjau lahan BBK di wilayah Plered dengan luas
mencapai 109.560 M2, pada kesempatan ini Ka. Biro Keuangan memaparkan
hasil pemantauan terhadap kondisi lahan, status penatausahaan tanah, serta
usaha pengamanan yang telah dilaksanakan oleh Balai Besar Keramik. Ka. Biro
Keuangan menekankan pentingnya pengamanan asset negara jangan sampai asset
negara tersebut digunakan oleh pihak yang tidak berhak, perlunya mengutamakan
kepentingan bersama dan mengesampingkan ego sektoral dalam pemberdayaan sumber
daya yang ada. Pada momen ini pula Ka. BSKJI memaparkan rencana pemanfaatan
lahan ini untuk untuk pembangunan Indonesia Manufacturing Center dan Pengembangan Industri Semikonduktor Nasional,
pertimbangan lainnya untuk pemanfaatan lahan berupa kerjasama industri dengan
skema bangun guna serah.
Mengapa Indonesia
Manufacturing Centre itu penting?. IMC Merupakan suatu solusi
ekosistem manufacturing di Indonesia yang mana bertujuan menciptakan One Stop Services dalam upaya mendorong Produk Substitusi Impor
Manufaktur Nasional, Peningkatan Kinerja Industri Manufaktur, Menciptakan Technopreneur baru, dan Memperkuat Supply Chain Nasional. Tujuan pemanfaatan lahan ini tentu saja
bertujuan untuk meningkatkan daya saing industri nasional agar mampu bersaing
dengan produk global. Mari kita sama-sama tunggu berjalannya pembangunan Indonesia
Manufacturing Center dan pengembangan Industri Semikonduktor
Nasional demi industri yang lebih maju.
Selanjutnya
dilakukan pemantauan ke lokasi lahan, pada saat pemantauan ditemukan pembangunan
rumah tinggal pada lahan Balai Besar Keramik. Hasil konfirmasi kepada warga
ditemukan bahwa warga telah memiliki sertifikat dari BPN. Hal ini menggambarkan
pentingnya dilakukan tindakan pengamanan aset lebih lanjut seperti dilakukan
pemagaran pada sekeliling lahan milik negara sehingga Batasan tanah milik
negara dapat diketahui dengan jelas. Tindak lanjut ini diharapkan dapat segera
dilaksanakan agar hal tersebut tidak terus terjadi yang akan menyebabkan
semakin sulitnya proses penertiban aset negara.